Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio <p>Prosiding Seminar Nasional Sosiologi (SeNSosio) Program Studi Sosiologi merupakan merupakan wadah publikasi artikel ilmiah hasil penelitian baik baik dari para akademi, peneliti, maupun praktisi khususnya dalam bidang kajian sosiologi. SeNsosio mengusung tema Masyarakat Pesisir dan Kepulauan dengan cakupan subtema Masalah lingkungan dan Perubahan Iklim, Gender, Kelompok Rentan dan Marjinal, Pembangunan dan Politik Lokal, Masyarakat Digital, Gaya Hidup, dan Isu Pemuda, Konflik dan Resolusi Konflik, Agama, Modal Sosial dan Kearifan Lokal, Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial, Pendidikan dan Pengembangan Komunitas. Prosiding SeNSosio diterbitkan secara online setiap tahun pada bulan Desember.</p> en-US Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2775-9121 HABITUS PEREMPUAN PEDAGANG DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN KELUARGA DI PARIWISATA PANTAI MERTAJASAH https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3503 <p>Pada umumnya peran perempuan hanyalah sebatas ibu rumah tangga, namun berdasarkan data dari kemendag menilai bahwa dari sektor UMKM di indonesia, memiliki potensi pencapaian nilai bisnis sebanyak 130 miliar dolar AS tahun 2025, dari pencapaian nilai tersebut, UMKM yang dikelola oleh perempuan sebesar 64,5%. Pada kondisi tersebut, pariwisata menjadi fondasi kruasial untuk mendukung meningkatan perekonomian keluarga bagi perempuan pedagang. Pariwisata pantai mertajasah memiliki beberapa objek yang menarik wisatawan untuk berkunjung, diantaranya terdiri dari jembatan mangrove dan pesona pantai yang atraktif. Objek wisata yang mendukung tersebut merangsang masyarakat lokal khususnya perempuan dalam memanfaatkan potensi daya tarik wisata alam yang unik, untuk mendirikan UMKM berbasis kuliner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui habitus perempuan pedagang dalam meningkatkan perekonomian keluarga di pariwisata pantai mertajasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitus perempuan dalam berdagang disebabkan oleh faktor rendahnya ekonomi. Habitus ini dibentuk di ranah wisata yang mempunyai potensi daya tarik pelanggan dengan melalui berbagai modal yang dimiliki oleh perempuan, seperti modal produk makanan yang dipasarkan, lalu jaringan sosial terhadap pengelola, keluarga dan teman dalam mendukung proses alur dagangannya, dan juga perempuan memiliki pengalaman dan warisan dalam mengelola dagangannya yang memungkinkan perempuan mendapatkan pengakuan dalam mengambil peran ganda. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sektor pariwisata memberikan dukungan kuat terhadap perempuan yang menjalani habitusnya dalam berdagang untuk meningkatkan perekonomian keluarga.</p> Nubli Maftuh Anwaruddin Ekna Satriyati Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-07 2025-12-07 6 1 1 17 RASIONALISASI DAN NEGOSIASI PARTISIPASI EKONOMI PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3558 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengalaman perempuan pengemudi ojek online KOALA (Komunitas Ojek Akhwat Syiah Kuala), yang terlibat dalam partisipasi ekonomi di ruang publik perkotaan. Secara spesifik, penelitian ini mendalami bagaimana perempuan, yang dikontruksi oleh struktur memiliki tanggung jawab di ranah domestic, mampu menegosiasi dan merasionalisasikannya sehingga menjadi sebuah sosial <em>advantages. </em>Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif diskripti. Data dikumpulkan dengan metode wawancara mendalam terhadap tujuh informan yang ditentukan secara purposive sampling. Teori pilihan rasional James Coleman digunakan untuk menganalisa data<em>.</em> Penelitian mendapati bahwa sebagai actor rasional, perempuan pengemudi ojek online telah berhasil memaksimalkan kepentingannya dengan merasionalisasi berbagai sumber daya yang didapati. Pada satu sisi, pilihan menjadi pengemudi ojek online memberikan peluang ekonomi; dapat membantu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga dan lebih mandiri secara finansial. Pada sisi lain menjadi ojek online, dengan sistem waktu kerja yang lebih fleksibel, membantu mereka mengelola peran domestik secara seimbang. Meskipun demikian, terdapat berbagai macam tantangan yang dihadapi seperti persepsi negative, tantangan manajemen waktu dan tantangan mengelola resiko. Penelitian ini mendapati bahwa pengemudi ojek online ini mampu menegosiasikan berbagai problema yang dihadapi ini karena adanya sistem dukung dari keluarga sebagai <em>primary support system</em>. Komunitas kerja yang <em>homogenous</em> memberikan keleluasaan dan manajemen waktu yang fleksibel adalah support sistem sekunder. Sistem dukung ini kemudian memberikan kemampuan negosiasi bagi perempuan pengemudi ojek online dalam menavigasi partisipasi ekonomi mereka di ruang publik.</p> Khairulyadi Khairulyadi Masrizal Masrizal Ibnu Phonna Hanifa Banafsaj Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 18 31 PERAN PEMERINTAH DAERAH PADA PARIWISATA INKLUSIF MELALUI QUALITY TOURISM DI KABUPATEN SAMPANG https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3531 <p>Penelitian ini membahas peran Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang dalam mengembangkan pariwisata inklusif melalui pendekatan quality tourism. Latar belakang penelitian ini didasari oleh potensi wisata Sampang yang besar, namun belum dikelola secara inklusif dan berkelanjutan, terutama dalam hal aksesibilitas, kualitas layanan, dan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Pemerintah daerah memiliki peran penting sebagai pembuat kebijakan dan fasilitator pembangunan yang menjamin agar sektor pariwisata mampu memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran strategis pemerintah daerah dalam mewujudkan pariwisata inklusif, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi, serta merumuskan strategi kebijakan berbasis kualitas pariwisata. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah berupaya menerapkan prinsip <em>quality tourism </em>melalui penyediaan fasilitas ramah disabilitas, peningkatan kolaborasi lintas sektor, dan penguatan kebijakan dalam RPJMD 2021–2026. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sumber daya manusia dan koordinasi antarinstansi. Temuan ini menegaskan bahwa peran pemerintah daerah sebagai katalisator pariwisata inklusif perlu diperkuat melalui pengembangan SDM, regulasi yang adaptif, dan monitoring berkelanjutan. Kesimpulannya, penerapan <em>quality tourism </em>dapat menjadi strategi efektif untuk mewujudkan pariwisata inklusif, berkelanjutan, dan berkualitas di Kabupaten Sampang.</p> Moh Nurul Khomaidi Merlia Indah Prastiwi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 32 42 PERAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM ASOSIASI PEREMPUAN INDONESIA UNTUK KEADILAN (LBH APIK) NTB DALAM MEMPERJUANGKAN AKSES KEADILAN BAGI PEREMPUAN DI NUSA TENGGARA BARAT https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3507 <p>Ketimpangan gender masih menjadi isu struktural yang terus memengaruhi akses perempuan terhadap keadilan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) NTB dalam memperjuangkan akses keadilan bagi perempuan di Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan partisipatoris <em>(Participatory Action Research</em>/PAR), dilaksanakan melalui kegiatan Praktik Kuliah Lapangan (PKL) selama satu bulan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, serta dianalisis dengan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LBH APIK NTB menjalankan peran penting dalam pendampingan hukum, memberikan edukasi, advokasi kebijakan, dan pemberdayaan perempuan dalam proses akses keadilan. Secara khusus, LBH APIK NTB membantu perempuan melewati proses hukum yang rumit, memberikan perlindungan psikososial, serta mendorong reformasi sosial melalui pendekatan berbasis keadilan gender. Dengan merujuk pada teori keadilan John Rawls, temuan ini menunjukkan bahwa upaya LBH APIK mencerminkan prinsip <em>equal liberty</em> dan <em>difference principle</em> dalam menciptakan sistem hukum yang lebih adil bagi kelompok rentan. Penelitian ini menekankan pentingnya peran lembaga bantuan hukum dalam mendorong transformasi sosial menuju kesetaraan gender.</p> Lulu Amini Luckia Syafarina Riskia Fibrianti Fibrianti Farida Hilmi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 43 56 PEREMPUAN MADURA DAN MOBILITAS SOSIAL https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3567 <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang aktivitas Perempuan Madura dalam mengelola Bisnis Kuliner Makanan Tradisional yang telah mengakibatkan perubahan dalam bentuk mobilitas sosial. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui data primer yang diambil dari wawancara dan observasi. Data sekunder didapatkan melalui jurnal, artikel, buku dan sumber lainnya. Penelitian dilakukan di Madura, dengan subyek penelitian adalah pemilik dari Warung Bebek Sinjay, Kaldu Kokot Al Ghozali dan Rujak Bu Ponok yang dikelola. Penelitian menggunakan pendekatan rasionalitas Max Weber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, aktivitas mengelola makanan merupakan kebiasaan bagi perempuan Madura seiring dengan posisi perempuan ada di ranah domestik. Kedua, Persoalan ekonomi keluarga telah mendorong perempuan mentransformasikan makanan rumahan menjadi kuliner yang diperdagangkan. Ketiga, Perempuan Madura dengan keuletan, ketrampilan dan kepemimpinannya telah mengantarkan bisnis kulinernya berhasil dengan ditandai perkembangan pendapatan hingga dibukanya banyak cabang, penguatan ekonomi keluarga. Keempat berkembangnya bisnis kuliner Perempuan Madura mengakibatkan adanya mobilitas ekonomi dan sosial bagi perempuan dan keluarga.</p> Aminah Dewi Rahmawati Aminah Kuntum Chairum Ummah Hetti Mulyaningsih Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 57 70 PERAN PENDIDIKAN KEAGAMAAN MULTIKULTURAL DI MASJID AGUNG ASY-SYUHADA DALAM PENGUATAN MODERASI BERAGAMA MASYARAKAT PESISIR MADURA https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3556 <p>Masyarakat pesisir Madura dikenal memiliki karakter religius yang kuat sekaligus keterbukaan terhadap keragaman sosial dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran pendidikan keagamaan multikultural di Masjid Agung Asy-Syuhada dalam memperkuat moderasi beragama masyarakat pesisir Madura. Melalui pendidikan keagamaan yang inklusif, masjid ini menjadi ruang pembelajaran sosial yang menanamkan nilai toleransi, saling menghargai, dan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi nonpartisipatif, wawancara semi-struktural, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan Teori Fungsional Struktural Talcott Parsons, yang menekankan pentingnya keseimbangan sosial melalui empat fungsi utama sistem sosial (AGIL): adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan di Masjid Agung Asy-Syuhada, seperti pengajian, majelis taklim, dan pembinaan jamaah, tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembinaan spiritual, tetapi juga sebagai media penguatan nilai-nilai multikultural dan moderasi beragama. Melalui kegiatan tersebut, terbangun sikap toleran, solidaritas sosial, dan hubungan harmonis antarjamaah. Pendidikan keagamaan multikultural berperan penting dalam menjaga keseimbangan sosial dan memperkuat semangat moderasi beragama di lingkungan masyarakat pesisir Madura yang dinamis dan heterogen.</p> Ardi Ahyu Anas Kuntum Chairum Ummah Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 71 86 EKSISTENSI DAN REPRESENTASI PEREMPUAN MUDA DALAM RUANG PUBLIK SEKOLAH DI MADURA https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3562 <p>Identitas dan kepemimpinan perempuan di ruang publik masih sering dipengaruhi oleh konstruksi sosial patriarkal serta bias gender yang membatasi partisipasi mereka. Sekolah, sebagai cerminan masyarakat, menjadi ruang penting untuk melihat bagaimana perempuan muda menegosiasikan identitas sekaligus membangun kepemimpinan. Penelitian ini dilakukan di SMAN 2 Bangkalan, Madura yang berfokus pada pengalaman seorang siswi yang memiliki dua peran strategis, yaitu sebagai ketua umum OSIS dan Duta gender. Kedua posisi ini memberikan gambaran bagaimana perempuan muda tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga menjadi representasi perubahan pandangan terhadap peran perempuan di ruang publik. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami secara mendalam proses pembentukan identitas kepemimpinan, kesadaran gender, serta strategi adaptasi siswi tersebut dalam menghadapi tantangan baik struktural maupun kultural yang ada di sekolah. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari wawancara mendalam, observasi kegiatan organisasi, serta analisis dokumen yang berkaitan dengan aktivitas kepemimpinan dan advokasi gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran ganda yang dijalankan siswi tidak hanya menjadi sarana pengembangan diri, tetapi juga mencerminkan adanya pergeseran cara pandang remaja terhadap kepemimpinan perempuan. Temuan ini menguatkan bahwa perempuan muda memiliki kapasitas untuk menjadi agen perubahan sosial dengan menegakkan nilai kesetaraan, keadilan gender, dan partisipasi aktif di ruang publik sejak dini. Kesimpulannya, sekolah memiliki peran signifikan dalam menciptakan lingkungan yang inklusif untuk menumbuhkan karakter, empati sosial, serta kepemimpinan yang berperspektif gender di tingkat pendidikan menengah.</p> Yenni Lu’luul Maftukhah Alfan Biroli Frisca Adelia Putri Suci Nanda Aspuji Laila Laila Wasiah Wasiah Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 87 99 PERUBAHAN SOSIAL AKIBAT PENGGUNAAN TEKNOLOGI ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) CHATGPT DI KALANGAN MAHASISWA PROGRAM STUDI SOSIOLOGI, UNIVERSITAS MATARAM https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3563 <p>Penggunaan teknologi kecerdasan buatan, khususnya ChatGPT, semakin meluas dalam berbagai bidang termasuk dunia akademik. Perubahan ini membawa dampak signifikan terhadap dinamika pembelajaran mahasiswa, baik dari segi interaksi, pola belajar, maupun nilai-nilai akademik yang dianut. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bagaimana mahasiswa Sosiologi Universitas Mataram memanfaatkan ChatGPT dalam lingkungan akademik maupun non akademik, serta transformasi yang terjadi dalam proses belajar mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berfokus pada pengalaman mahasiswa dalam mengakses dan menggunakan ChatGPT. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT mendorong perubahan pola belajar mahasiswa yang lebih mandiri, cepat, dan berbasis digital, meskipun di sisi lain memunculkan potensi ketergantungan dan melemahnya kemampuan berpikir kritis. Selain itu, pemanfaatan ChatGPT juga mengubah pola interaksi mahasiswa dengan dosen maupun sesama mahasiswa, serta menimbulkan pergeseran pola belajar dan etika penggunaan teknologi. Analisis dengan teori Determinisme Teknologi Marshall McLuhan mengungkap bahwa ChatGPT bukan sekadar alat bantu, melainkan agen perubahan yang membentuk pola pikir, cara berinteraksi, dan budaya belajar mahasiswa, selaras dengan prinsip <em>the medium is the message</em>.</p> Asih Purnama Fitri Latifa Dinar Rahmani Hakim I Dewa Made Satya Parama Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 100 115 PENGARUH GPENGARUH GAYA HIDUP MODERN DAN PEER PRESSURE TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWA AYA HIDUP MODERN DAN PEER PRESSURE TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWA (STUDI KASUS UNIVERSITAS MATARAM) https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3499 <p>Gaya hidup modern merupakan gaya hidup yang ditandai dengan kecenderungan mengikuti tren, penggunaan teknologi, serta pola konsumsi yang cenderung hedonistik. Sementara itu, peer pressure mengacu pada dorongan atau tekanan sosial dari lingkungan pertemanan yang dapat memengaruhi keputusan konsumsi individu khususnya mahasiswa Universitas Mataram dimana gaya hidup modern dan peer pressure mempengaruhi perilaku konsumtif mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dan bagaimana gaya hidup modern dan peer pressure mampu mempengaruhi perilaku konsumtif mahasiswa Universitas Mataram. Teori yang digunakan untuk menganalisis temuan data dalam penelitian ini ialah Teori perilaku konsumsi dari Jean Baudrillard dan Teori Konformitas dari Solomon Asch. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Mix Methode dengan pendekatan Sequential Explanatory. Proses pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data yang dimanfaatkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Uji instrument penelitian dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas dan pada keabsahan data menggunakan triangulasi yaitu triangulasi sumber, teknik dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup modern memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa, terutama dalam aspek pembelian barang bermerek, penggunaan teknologi, dan tren gaya hidup urban. Peer pressure juga terbukti memengaruhi perilaku konsumtif, di mana mahasiswa cenderung mengikuti pola konsumsi teman sebaya untuk mendapatkan penerimaan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku konsumtif mahasiswa tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga oleh faktor simbolik dan sosial.</p> Arfinta Maharani Hafizah Awalia Sally Salsabila Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 116 125 PERAN PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN TANAMAN OBAT KELUARGA DI KECAMATAN PAMEKASAN MADURA JAWA TIMUR SEBAGAI PARIWISATA INKLUSIF BERKELANJUTAN https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3573 <p>Pandemi Covid-19 menyebabkan masyarakat di Kabupaten Pamekasan Madura Jawa Timur kembali menggunakan tanaman obat keluarga untuk menjaga kesehatan dan mengobati sakit. Tanaman obat diperoleh dengan mudah, murah dan mujarab dari menanam Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Pemerintah Kabupaten Pamekasan melakukan program pemberdayaan masyarakat melalui perempuan dalam kegiatan menanam TOGA sebagai kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Program Perempuan dalam PKK bersama pemerintah menanam TOGA, dilakukan di halaman rumah warga setiap kampung, di halaman kantor-kantor dinas Pemerintah Daerah Pamekasan serta halaman pondok pesantren. Pasca Pandemi Covid-19, peran Perempuan dalam kegiatan PKK dengan penanaman TOGA menjadi menarik untuk diteliti karena mereka berhasil merintis pengembangan TOGA sebagai pariwisata inklusif berkelanjutan. Metode yang digunakan kualitatif deskriptif dengan fenomenologi. Data diperoleh dengan observasi dan wawancara terlibat. Analisis data menggunakan metode Miles dan Huberman sehingga validasi data menggunakan triangulasi sumber. Temuannya adalah 1) Peran Sosial : Perempuan berperan sebagai aktor yang pengerak pengembangan TOGA, 2) Peran Budaya : Perempuan berperan menjadi tokoh pelestari TOGA, dan 3) Peran Ekonomi : Perempuan berperan menjadi aktor pencipta ekonomi kreatif TOGA menjadi pariwisata inklusif berkelanjutan. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang diharapkan mampu memberikan wawasan pengetahuan dan kebijakan baru mengenai peran Perempuan dalam mengembangkan TOGA sebagai pariwisata inklusif berkelanjutan di Kecamatan Pamekasan Madura Jawa Timur.</p> Ekna Satriyati Citra Nurhayati Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 126 136 PERAN MASYARAKAT DALAM PARIWISATA INKLUSIF MELALUI QUALITY TOURISM DI KABUPATEN SAMPANG https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3534 <p>Penelitian ini berjudul <em>“Peran Masyarakat dalam Pariwisata Inklusif melalui Quality tourism di Kabupaten Sampang”</em>, kabupaten Sampang memiliki potensi wisata alam, budaya, dan kuliner yang besar, namun pengembangannya belum optimal akibat rendahnya kesadaran masyarakat serta keterbatasan fasilitas yang ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan dan citra destinasi wisata, sehingga diperlukan penerapan konsep pariwisata inklusif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pendekatan <em>quality tourism </em>menjadi strategi utama untuk meningkatkan kualitas pengalaman wisata, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Penelitian berjudul <em>“Peran Masyarakat dalam Pariwisata Inklusif melalui Quality tourism di Kabupaten Sampang”</em> ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran masyarakat dalam mendukung pengembangan pariwisata inklusif serta menganalisis sinergi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di wilayah Madura bagian barat. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap lima informan kunci yang terdiri atas masyarakat sekitar destinasi wisata dan pelaku usaha lokal. Data sekunder diperoleh dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sampang serta sumber literatur pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat berperan aktif dalam menjaga kebersihan pantai, menyediakan <em>homestay</em>, dan melakukan promosi digital sederhana. Pelaku usaha turut menerapkan <em>quality tourism </em>melalui peningkatan kualitas pelayanan dan produk lokal. Namun, keterbatasan infrastruktur dan koordinasi antarpihak masih menjadi kendala. Kesimpulannya, sinergi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi faktor kunci dalam mewujudkan pariwisata inklusif yang meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal dan mendukung pengembangan wisata berkelanjutan.</p> Ahmad Fendi Ferdiansyah Merlia Indah Prastiwi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 137 150 PERSEPSI PENYINTAS TUBERKULOSIS (TB) PARU TERHADAP PROGRAM ELIMINASI (TB) DI DESA GANTI https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3538 <p>Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit penular kronis di dunia, termasuk di Indonesia. Program eliminasi TB menjadi langkah penting yang telah diupayakan oleh pemerintah melalui berbagai strategi, salah satunya melalui pelibatan masyarakat di tingkat desa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap program eliminasi TB di Desa Ganti Kecamatan Praya Timur, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik penentuan infroman dilakukan menggunakan teknik purposive. Data penelitian didapat melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi kepada informan, yaitu pasien TB, keluarga pasien, kader dan petugas kesehatan. Teknik analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman, melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan dilakukan dengan uji kredibilitas dengan teknik triangulasi sumber dan teknik. Analisis data menggunakan teori konstruksi sosial oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar persepsi penyintas TB di Desa Ganti positif. Ditunjukkan dengan penerimaan dan partisipasi terhadap program, peningkatan pemahaman, dan kepercayaan diri penyintas TB. Adapun faktor yang mendukung keberhasilan program adalah pengalaman penyintas terhadap efek samping pengobatan, kesadaran tinggi penyintas terhadap perilaku hidup sehat dan pencegahan TB, kegiatan sehari-hari penyintas TB selama menjalani pengobatan, dan dampak pengobatan yang tidak tuntas di masa lalu.</p> Feby Agustina Wulan Syarifuddin Syarifuddin Farida Hilmi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 151 167 TANGAN PEREMPUAN MENYEMAI KETAHANAN PANGAN: URBAN FARMING SEBAGAI BENTUK STRATEGI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3495 <p>Fenomena urban farming merupakan salah satu kegiatan masyarakat perkotaan yang memiliki dampak positif bagi suatu keluarga, mengingat hasilnya yang dapat digunakan untuk konsumsi pribadi dan ketahanan pangan keluarga. Perempuan merupakan aktor yang seringkali terlibat didalam kegiatan pertanian maupun perkebunan. Hal ini menyebabkan perempuan menjadi salah satu aktor yang penting dalam ketahanan pangan keluarga. Fenomena urban farming ini tentunya menarik untuk dieksplorasi mengingat sempitnya lahan perkotaan dan manfaat yang dapat diberikan kegiatan ini. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi mengapa perempuan perkotaan melakukan urban farming di sekitar rumah mereka. Dari jawaban informan penelitian, tulisan ini juga akan menjelaskan bagaimana urban farming dapat menjadi bentuk nyata dari strategi pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan fenomenologi sebagai metodenya. Adapun wawancara, observasi, dan dokumentasi merupakan metode pengumpulan data penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan di kota Medan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa informan penelitian melaksanakan kegiatan urban farming untuk berbagai keperluan, seperti konsumsi pribadi, menghemat uang, komodifikasi, rekreasi dan estetika. Dengan adanya urban farming, ketahanan pangan keluarga pada masyarakat perkotaan dapat ditingkatkan, mengingat dampak positif yang diberikan kegiatan ini. Hal ini tentunya dapat menjadi suatu solusi dan bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama pada poin 2 dan 3, yaitu tanpa kelaparan dan kehidupan sehat dan sejahtera.</p> Febrian Josua Halomoan Sihombing Abdillah Habibi Mafizi Shadow Aulia Sudrajat Muhammad Alwi Yanda Sitompul Faozanolo Zebua Rahman Malik Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-09 2025-12-09 6 1 168 183 DAMPAK PEMBANGUNAN PABRIK APHT (AGLOMERASI PABRIK HASIL TEMBAKAU) TERHADAP PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3529 <p>APHT merupakan suatu pabrik industri tembakau yang berada di Desa Paokmotong, keberadaan pabrik ini untuk menyediakan wadah terpusat bagi industri tembakau lokal, keberadaan pabrik ini memberikan dampak pada perubahan mata pencaharian masyarakat sekitar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak pembangunan pabrik APHT terhadap perubahan mata pencaharian masyarakat serta apa saja faktor pendorong masyarakat merubah mata pencahariannya. Teori yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam penelitian ini adalah teori struktural fungsional Talcot Parsons dengan skema AGIL (adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan pemeliharaan pola). penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Anallisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi: reduksi data, mengkaji data dan menarik kesimpulan. Dengan demikian hasil penelitian ini adalah dampak dari pembangunan pabrik APHT dalam perubahan mata pencaharian masyarakat yaitu membuat terjadinya pergeseran mata pencaharian pada masyarakat serta membuat perubahan pada tingkat pendapatan masyarakat. Dalam terjadinya perubahan mata pencaharian ini juga terdapat faktor – faktor yang mendorong masyarakat merubah mata pencahariannya yaitu: 1) Kebutuhan akan pekerjaan yang tetap bersifat tetap dan menawarkan stabilitas finansial 2) Kedekatan geografis lokasi pabrik dengan area permukiman penduduk 3) Anggapan akan pendapatan penghasilan yang lebih baik 4) Dorongan kondisi ekonomi untuk mencari sumber pendapatan tambahan 5) Kebijakan prousaha (tidak adanya larangan) dari pemerintah desa untuk berdagang disekitar area pabrik.</p> Hafizatul Hilqoh Nuning Juniarsih Anisa Puspa Rani Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 184 197 PENGARUH GREEN PROJECT TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN DI KAWASAN PULAU LANGKAWI, MALAYSIA https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3548 <p>Penelitian ini menganalisis pengaruh Green Project terhadap peningkatan kualitas lingkungan di Pulau Langkawi, Malaysia, sebagai implementasi nyata dari pembangunan berkelanjutan di kawasan wisata tropis. Green Project merupakan pendekatan pembangunan ramah lingkungan yang menekankan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, sosial, dan ekologis melalui program seperti restorasi ekosistem, pengelolaan limbah, serta pengembangan pariwisata hijau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, memadukan data primer dari wawancara dan observasi lapangan dengan data sekunder dari laporan lembaga seperti UNESCO, UNEP, dan Langkawi Development Authority (LADA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Green Project di Langkawi berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas lingkungan, terutama pada aspek biofisik, sosial, ekonomi dan tata kelola. Dari sisi biofisik, terjadi peningkatan tutupan mangrove, penurunan volume sampah, dan perbaikan kualitas air laut. Secara sosial, kesadaran ekologis dan partisipasi masyarakat meningkat melalui program konservasi berbasis komunitas. Dari sisi ekonomi, penerapan Green Project memperkuat citra Langkawi sebagai destinasi wisata hijau sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat melalui sektor pariwisata berkelanjutan. Sementara dari aspek tata kelola, koordinasi lintas sektor dan penerapan teknologi hijau memperkuat efektivitas kebijakan lingkungan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa Green Project di Pulau Langkawi tidak hanya memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga membentuk pola pengelolaan pariwisata yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian alam, serta dapat dijadikan model pembangunan berkelanjutan di wilayah kepulauan lainnya.</p> In Soniya Rabbani Lalu Fatih Naufal Arjuwan Yuldus Tahta Aunillah Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 198 217 MOTIF MAHASISWA DALAM HUBUNGAN FRIENDS WITH BENEFITS https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3570 <p>Mahasiswa berada pada fase transisi dari remaja menuju dewasa awal, sebuah fase yang ditandai dengan pencarian jati diri dan eksplorasi pengalaman baru, termasuk dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dalam dinamika modern, muncul fenomena <em>Friends with benefits </em>(FWB) sebagai bentuk relasi non-komitmen yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan seksual dan kenyamanan sesaat tanpa keterikatan emosional maupun ikatan formal. Kota Mataram sebagai pusat pendidikan di Nusa Tenggara Barat, dengan jumlah mahasiswa yang besar serta latar belakang sosial yang beragam, menghadirkan ruang sosial yang memungkinkan praktik ini berkembang meski secara kultural masyarakatnya dikenal religius dan konservatif. Penelitian ini bertujuan untuk menggali motif, makna, dan dampak yang dialami mahasiswa pelaku FWB di Kota Mataram. Kerangka analisis menggunakan teori fenomenologi Alfred Schutz mengenai motif masa lalu, masa kini, dan masa depan, serta interaksionisme simbolik Herbert Blumer untuk menelusuri pemaknaan simbolik. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui wawancara mendalam pada mahasiswa yang pernah atau sedang menjalani hubungan FWB. Hasil penelitian menunjukkan adanya motif utama berupa trauma masa lalu, dorongan seksual, rasa penasaran, atraksi fisik, dan pembuktian diri. Makna yang dilekatkan pada hubungan FWB mencakup kenyamanan, pemenuhan kebutuhan biologis, kebebasan dari keterikatan, kepuasan diri, serta kebanggaan personal. Dampak yang ditemukan meliputi dimensi emosional, sosial, moral, ekonomi, dan kesehatan, dengan risiko signifikan terutama pada ranah sosial dan kesehatan. Simpulan penelitian menegaskan bahwa FWB merupakan fenomena relasional kompleks yang tidak hanya mencerminkan kebebasan, tetapi juga membawa konsekuensi nyata bagi kehidupan mahasiswa.</p> Muhamad Yarid Satya Ubaye Solikatun Solikatun Muhammad Arwan Rosyadi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 218 231 KEARIFAN LOKAL TERHADAP KONSERVASI LINGKUNGAN MASYARAKAT ADAT PESISIR DESA UJUNG ALANG, KEC. KAMPUNG LAUT, SEGARA ANAKAN, KABUPATEN CILACAP https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3549 <p>Penelitian ini mengkaji relasi antara kearifan lokal dan praktik konservasi lingkungan pada masyarakat adat Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut di kawasan pesisir Segara Anakan, Kabupaten Cilacap. Fokus utama penelitian guna memahami bagaimana sistem pengetahuan tradisional, nilai-nilai sosial budaya, serta praktik ekologis masyarakat berkontribusi terhadap pelestarian ekosistem pesisir di tengah tekanan modernisasi dan degradasi lingkungan. Pendekatan penelitian menggunakan etnografis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara terhadap tokoh adat, nelayan, serta perangkat desa. Pisau analisis penelitian ini menggunakan teori ekologi holistik Fritjof Capra, yang memandang kehidupan sosial dan ekologis sebagai jaringan yang saling terhubung (<em>web of life</em>). Melalui kerangka ini, tradisi Petik Laut dipahami sebagai sistem kehidupan yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat Desa Ujung Alang memiliki model konservasi berbasis kearifan lokal yang terwujud dalam norma adat, pantangan ekologis, serta praktik pengelolaan berkelanjutan terhadap sumber daya laut. Tradisi Petik Laut yang dipertahankan mengandung nilai-nilai ekologis seperti rasa hormat terhadap laut, prinsip keseimbangan alam, dan kesadaran kolektif dalam menjaga sumber daya pesisir. Tradisi ini mencerminkan sistem pengetahuan ekologis yang diwariskan turun-temurun serta berkesinambungan terhadap konservasi lingkungan secara arif dan bijaksana. Kearifan tersebut mencerminkan bentuk ekologis dari sistem sosial yang berorientasi pada keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, spiritualitas, dan keberlanjutan lingkungan. Hal ini menegaskan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga instrumen ekologis yang efektif dalam mitigasi krisis lingkungan pesisir. Oleh karena itu, integrasi pengetahuan lokal dalam konservasi berbasis komunitas menjadi kunci dalam membangun keberlanjutan lingkungan pesisir Segara Anakan.</p> Priyo Sandi Bawono Indra Jaya Kusuma Wardhana Syamsu Budiyanti Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 232 245 TRANSFORMASI KEBIJAKAN DAN POLITIK BERBASIS GENDER: PERSPEKTIF PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM PENGUATAN DEMOKRASI https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3537 <p class="p2" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; line-height: normal;"><span lang="EN-US" style="font-size: 12.0pt; font-family: 'Times New Roman',serif;">Transformasi kebijakan dan politik berbasis gender merupakan isu penting dalam penguatan demokrasi modern, khususnya di Indonesia yang menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan keadilan sosial. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran kritis warga negara terhadap pentingnya kesetaraan gender dalam ruang kebijakan dan politik. Melalui Pendidikan Kewarganegaraan, warga negara tidak hanya diposisikan sebagai objek pendidikan, tetapi juga sebagai subjek yang aktif dalam memperjuangkan hak-hak politik yang setara tanpa diskriminasi gender. Kajian ini menyoroti hubungan antara transformasi kebijakan dan politik berbasis gender dengan perspektif Pendidikan Kewarganegaraan yang menekankan nilai demokrasi, partisipasi, dan tanggung jawab kewargaan. Kebijakan responsif gender diyakini mampu memperluas ruang partisipasi politik perempuan, memperkuat representasi dalam lembaga legislatif maupun eksekutif, serta mendorong terbentuknya kebijakan publik yang lebih inklusif. Pendidikan Kewarganegaraan dalam konteks ini berfungsi sebagai wahana internalisasi nilai demokratis, penguatan literasi politik, serta pengembangan sikap kritis warga negara terhadap ketidakadilan berbasis gender. Dengan demikian, integrasi perspektif gender dalam PKn dapat menjadi strategi efektif untuk menumbuhkan kesadaran kolektif mengenai pentingnya politik yang berkeadilan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penguatan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan regulasi, tetapi juga oleh proses pendidikan kewarganegaraan yang mampu menginternalisasikan nilai kesetaraan gender. Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan publik yang responsif gender dan pendidikan kewarganegaraan yang transformatif menjadi kunci dalam mewujudkan demokrasi inklusif di Indonesia.</span></p> Rizal Fahmi Saiful Saiful Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 246 255 RASIONALISASI PERUBAHAN ORIENTASI MAHASISWA UNIVERSITAS MATARAM DARI ORGANISASI KE MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3566 <p>Rasionalisasi Program MBKM di Universitas Mataram merupakan fenomena yang menunjukkan adanya pergeseran cara pandang mahasiswa dalam menentukan arah pengembangan diri selama kuliah. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dan Teori Pilihan Rasional James S. Coleman, studi ini menganalisis faktor-faktor pendorong di balik pergeseran ini. Ditemukan bahwa mahasiswa, sebagai aktor rasional, cenderung memilih MBKM karena menawarkan pengalaman profesional yang lebih konkret dan relevan dengan dunia kerja, dorongan untuk mengeksplorasi peluang di luar zona nyaman kampus, serta pengaruh lingkungan sosial yang memandang MBKM sebagai jalur prestisius. Selain itu, insentif ekonomi yang signifikan dan pengakuan akademik formal seperti konversi SKS menjadi daya tarik utama yang tidak dapat ditandingi oleh organisasi kampus. Meskipun organisasi tetap diakui perannya yang krusial dalam pengembangan <em>soft skill</em>, kepemimpinan, dan jaringan sosial, MBKM kini dipandang sebagai pilihan yang lebih strategis dan efisien untuk persiapan karier. Kesimpulannya, keputusan mahasiswa untuk beralih ke MBKM adalah hasil dari kalkulasi rasional yang mengutamakan manfaat nyata dan terukur bagi masa depan mereka, menunjukkan bahwa MBKM telah menjadi instrumen yang lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan pengembangan diri yang berorientasi profesional, sementara organisasi tetap memegang peran penting dalam pembentukan karakter</p> Khaeratun Hisan Azhari Evendi Farida Hilmi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 256 266 TRANFORMASI PERILAKU KONSUMTIF MASYARAKAT MODERN : PERILAKU KONSUMTIF GEN Z DI EPICENTRUM MALL MATARAM https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3527 <p>Perubahan pola konsumsi dalam masyarakat modern tidak lagi didasarkan pada kebutuhan fungsional semata, melainkan lebih pada pencitraan diri, pengaruh media sosial, dan tekanan kelompok sebaya. Generasi Z (Gen Z), sebagai generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital dan media sosial, menunjukkan kecenderungan konsumsi yang sangat dipengaruhi oleh simbol, tren, dan citra. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi perilaku konsumtif Gen Z yang berkunjung ke Epicentrum Mall Mataram, serta mengidentifikasi faktor-faktor sosial, digital, dan psikologis yang membentuk pola konsumsi mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, lalu dianalisis dengan teori Simulakra dari Jean Baudrillard. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku konsumtif Gen Z dipengaruhi secara kuat oleh fenomena <em>Fear of Missing Out </em>(FOMO), eksposur konten viral di TikTok dan Instagram, serta tekanan sosial dari lingkungan pertemanan. Konsumsi dilakukan bukan berdasarkan kebutuhan riil, melainkan untuk memenuhi ekspektasi sosial dan memperoleh validasi digital. Epicentrum Mall tidak hanya menjadi ruang ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai ruang simbolik dan eksistensial, tempat Gen Z membangun identitas melalui konsumsi. Melalui teori Simulakra, ditemukan bahwa realitas konsumsi Gen Z telah memasuki tahap hiperrealitas, di mana representasi dan simbol lebih menentukan daripada kenyataan itu sendiri. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya edukasi literasi digital dan finansial agar Gen Z mampu mengelola perilaku konsumtif secara lebih sadar dan berkelanjutan.</p> Arbiatun Astiani Aiszyah Citra Kanaya Anah Afrianti Farida Hilmi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 267 280 ANALISIS PERAN PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3571 <p>Ekonomi kreatif memberikan peluang yang luas bagi perempuan untuk menyalurkan kreativitas dan inovasinya terkhusus untuk membangun kemandirian ekonomi, ketersediaan teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan akses pasar perempuan dan membangun usaha sendiri. Peran perempuan dalam pengembangan ekonomi kreatif merefleksikan inklusi sosial, dan kesetaraan gender yang dapat memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga, pengurangan angka kemiskinan, serta memperkuat ekonomi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan partisipasi perempuan dalam pengembangan ekonomi kreatif secara umum. Untuk mencapai tujuan ini dilakukan penelitian dengan menerapkan metode kualitatif dan pendekatan studi kepustakaan dengan menggunakan berbagai sumber pustaka sebagai data. Data dalam penelitian ini diperoleh dari artikel penelitian dan review dan diolah dengan menggunakan teknik berpikir deduktif. Hasil penelitian ini memperoleh hasil dari studi didalam negeri dan diluar negeri, diluar negeri peran perempuan dalam kegiatan ekonomi menunjukkan kontribusi yang besar dan peningkatan yang besar. Sedangkan studi didalam negeri menunjukkan bahwa kesetaraan akses perempuan dalam berbagai bidang seperti pendidikan merupakan salah satu faktor yang mengantar perempuan pada keaktifan dalam sektor ekonomi. Hasil ini menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat banyak jenis komoditas, dan produk kreatif yang memerlukan peran perempuan untuk dapat memberikan hasil yang optimal. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran dan partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi berdampak nyata baik pada perekonomian secara umum maupun spesifik pada ekonomi kreatif pada wilayah masing-masing.</p> Muh. Ihsan Sutarno A. Siti Nurmutiah Tenri Waru Alamsyah Agit Oktavianty Oktavianty Muh. Taufik Ramadhan Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 281 295 PERSPEKTIF PEREMPUAN BUGIS DALAM TRADISI DUI MENRE PERNIKAHAN ADAT BUGIS DI LABUHAN TERATA SUMBAWA BESAR https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3545 <p style="margin: 0cm; text-align: justify;">Penelitian ini mengkaji secara mendalam perspektif perempuan Bugis terhadap tradisi <em>dui menre </em>atau uang panai dalam pernikahan adat Bugis di Dusun Labuhan Terata, Kabupaten Sumbawa. Tradisi <em>dui menre </em>merupakan pemberian uang dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai bentuk penghargaan dan pembiayaan pesta pernikahan. Praktik ini memiliki makna simbolik yang kuat, yaitu sebagai wujud kehormatan, gengsi, dan peneguhan status sosial keluarga. Namun, di sisi lain, tradisi ini juga menimbulkan konsekuensi sosial dan gender, di mana perempuan sering kali diposisikan sebagai objek bernilai ekonomi dan jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami makna dan pengalaman perempuan Bugis dalam menjalani tradisi tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan perempuan Bugis, tokoh adat, dan keluarga, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian perempuan Bugis menilai <em>dui menre </em>sebagai simbol penghormatan dan kebanggaan keluarga, sementara sebagian lainnya memandangnya sebagai bentuk ketimpangan yang menegaskan dominasi laki-laki dalam sistem patriarki. Tradisi ini, dari perspektif feminisme Kate Millett (<em>Sexual Politics</em>), mencerminkan relasi kuasa yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Oleh karena itu, diperlukan reinterpretasi tradisi <em>dui menre </em>agar tetap menjaga nilai budaya Bugis, tetapi selaras dengan prinsip kesetaraan gender dalam kehidupan masyarakat modern.</p> Rani Anggraeni I Dewa Made Satya Parama Khalifatul Syuhada Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 296 311 EDU-TOURISM SEBAGAI STRATEGI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3498 <p>Penelitian ini mengkaji <em>edu-tourism </em>sebagai strategi pembangunan berkelanjutan melalui studi kasus Pulau Langkawi dengan pemanfaatan <em>pitching competition</em>. <em>Edu-tourism </em>dipandang mampu mengintegrasikan pendidikan, konservasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat, sejalan dengan status Langkawi sebagai UNESCO Global Geopark. <em>Pitching competition </em>berfungsi sebagai wadah kolaboratif lintas aktor yang melahirkan ide inovatif, memperkuat jejaring transnasional, serta mendukung diplomasi publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan <em>edu-tourism </em>berbasis <em>pitching competition </em>dapat menciptakan keseimbangan ekonomi, sosial, dan ekologi sekaligus memperkuat posisi Langkawi sebagai destinasi global yang progresif.</p> Muhammad Rayyan Maulana Kinaya Zeta Fatiha Baiq Putri Liana Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 312 332 PARIWISATA BUDAYA LOKAL DESA GUMANTAR DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT ADAT https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3533 <p>Tingkat partisipasi masyarakat adat yang rendah merupakan salah satu tantangan tersendiri dalam proses pengembangan pariwisata budaya di Desa Gumantar. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan perspektif pada masyarakat adat Gumantar dalam memahami pariwisata budaya di era sekarang. Penelitian ini menggunakan teori modal Pierre Bourdieu serta rumus habitus nya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sikap masyarakat adat dalam melihat pengembangan pariwisata budaya di Desa Gumantar serta mengungkap bagaimana peran pemerintah daerah dalam pengembangan pariwisata budaya di Desa Gumantar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 4 modal yang dimiliki oleh masyarakat adat sehingga bisa menghasilkan pengembangan pariwisata budaya yaitu modal budaya, sosial, simbolik dan ekonomi. Perubahan pada sikap masyarakat adat dalam melihat pengembangan pariwisata budaya di Desa Gumantar dipengaruhi oleh adanya hasil nyata dari kontribusi pemerintah daerah terhadap sektor ini yang dianggap menguntungkan bagi masyarakat adat. Keuntungan yang didapatkan oleh masyarakat adat ini merupakan realisasi dari kontribusi pemerintah daerah terhadap pengembangan pariwisata di Desa Gumantar.</p> Sibyanula Prisetyatna Maya Atri Komalasari Saipul Hamdi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 333 344 PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS KOMUNITAS (SUNRISE LAND LOMBOK) DI LABUHAN HAJI KABUPATEN LOMBOK TIMUR https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3520 <p>Penelitian ini mengkaji pengembangan pariwisata berbasis komunitas di <em>Sunrise Land </em>Lombok<em>,</em> Dusun Montong Meong, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang terbentuknya komunitas dan upaya yang dilakukan dalam mengembangkan pariwisata pantai. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi, melibatkan pengelola, pelaku UMKM, masyarakat sekitar, mahasiswa magang, dan wisatawan sebagai informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas terbentuk dari inisiatif pemuda lokal untuk memanfaatkan potensi alam dan budaya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya pengembangan meliputi pembangunan fasilitas, konservasi penyu, event budaya seperti <em>Madaq Keke</em>, promosi melalui media sosial, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Persoalan ini dianalisis menggunakan teori modal sosial Robert D. Putnam yang menegaskan pentingnya jaringan sosial, norma, dan kepercayaan dalam keberhasilan pengelolaan wisata. Pengembangan ini berdampak positif pada ekonomi, pelestarian budaya, dan kesadaran lingkungan masyarakat. Kesimpulannya, pengembangan pariwisata berbasis komunitas di <em>Sunrise Land </em>Lombok tidak hanya berdampak positif pada ekonomi lokal, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan kesadaran lingkungan masyarakat. Kedepannya sinergi antara komunitas, pemerintah, dan sektor swasta diharapkan dapat terus diperkuat demi keberlanjutan pariwisata yang inklusif dan berdaya saing.</p> Syarifa Nurus Sifak Anisa Puspa Rani Azhari Evendi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 345 353 MODAL SOSIAL DAN POLA RELASI SOSIAL ANTARA PENGRAJIN DENGAN PEDAGANG https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3522 <p>Pengrajin sering berada dalam posisi yang kurang menguntungkan, terutama dalam hal pembagian keuntungan dan penentuan harga jual produk. Hal ini menyebabkan adanya ketergantungan yang tinggi antara pengrajin terhadap pedagang, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesejahteraan pengrajin dan keberlanjutan industri kerajinan anyaman bambu di Desa Loyok. Penelitian ini menggunakan teori relasi sosial dari Georg Simmel serta teori modal sosial Pierre Bourdieu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan penelusuran dokumen. Penentuan informan dengan teknik <em>purposive</em> sampling. Teknik analisis data menggunakan kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, teori dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola relasi sosial yang terjalin antara pengrajin dan pedagang terbagi dalam 5 pola yaitu pola sistem jual beli, sistem upah, sistem hutang piutang, sistem kelompok dan sistem kontrak. Modal sosial antara pengrajin dan pedagang terbentuk melalui modal ekonomi, budaya, sosial dan simbolik Hambatan antara pengrain dan pedagang dalam menjalin relasi sosial terlihat pada hambatan eksternal dan hambatan internal. Hambatan eksternal mencakup faktor cuaca serta kegiatan sosial masyarakat yang berada di luar kendali pengrajin maupun pedagang. Hambatan internal meliputi keterbatasan alat dan kreativitas desain yang lebih berkaitan dengan kapasitas individu dan kelompok pengrajin.</p> Lalu Gigih Izzul Islam Siti Nurjannah Lalu Wiresapta Karyadi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 354 366 PERAN PEREMPUAN LOKAL DALAM KOMODIFIKASI BUDAYA SMONG SEBAGAI BASIS PENGEMBANGAN PARIWISATA KEBENCANAAN BERKELANJUTAN DI KABUPATEN SIMEULUE https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3491 <p>Penelitian ini menganalisis peran strategis perempuan lokal dalam proses komodifikasi budaya <em>Smong</em> sebagai basis pengembangan pariwisata kebencanaan berkelanjutan di Kabupaten Simeulue. Budaya <em>Smong</em>, yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal terkait mitigasi bencana tsunami, disampaikan secara turun-temurun melalui seni tutur <em>nandong</em> yang kerap dinyanyikan oleh ibu-ibu saat menidurkan anak. Dalam konteks transformasi ekonomi dan budaya, <em>Smong</em> mengalami pergeseran fungsi dari pengetahuan lokal menjadi komoditas budaya yang memiliki nilai edukatif dan ekonomis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen kebijakan yang relevan dengan pengembangan pariwisata berbasis komunitas dan pemberdayaan perempuan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan lokal memainkan peran ganda—sebagai agen pelestari nilai budaya dan sebagai aktor ekonomi kreatif—dalam menjembatani tradisi lisan <em>Smong</em> dengan narasi pariwisata modern. Komodifikasi budaya <em>Smong</em> tidak hanya menciptakan peluang ekonomi baru, tetapi juga memperkuat fungsi sosial perempuan sebagai penjaga identitas kolektif dan pembangun kesadaran kebencanaan. Dengan demikian, perempuan menjadi pusat dalam integrasi nilai budaya, pendidikan kebencanaan, dan ekonomi kreatif menuju model pariwisata berkelanjutan yang berbasis kearifan lokal.</p> Ardiansyah Ardiansyah Ishak Hasan Muhammad Syukri Masrizal Masrizal Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 367 371 KOHESI DAN JARINGAN SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT NELAYAN DI DESA BRANTA PESISIR, KECAMATAN TLANAKAN, KABUPATEN PAMEKASAN https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3530 <p>Pulau Madura memiliki potensi kelautan yang luas dengan karakteristik sosial yang khas. Penelitian ini berfokus pada kohesi dan jaringan sosial masyarakat nelayan di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan. Kehidupan masyarakat nelayan sangat erat dengan nilai kebersamaan, gotong royong, serta jaringan sosial yang menopang keberlangsungan hidup di tengah dinamika sosial dan ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah memahami bagaimana kohesi sosial dimaknai oleh nelayan, serta bagaimana jaringan sosial membentuk pola interaksi dan solidaritas komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat, nelayan, serta pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kohesi sosial tampak melalui praktik gotong royong saat melaut, solidaritas dalam menghadapi kesulitan, serta kesepakatan bersama terkait pembagian hasil. Jaringan sosial berperan penting melalui relasi kekerabatan, pertemanan, dan hubungan dengan pihak eksternal seperti pengepul, koperasi, serta lembaga desa. Ikatan kuat menciptakan rasa aman dan solidaritas internal, membuka akses pada informasi harga, pasar, serta peluang ekonomi. Penelitian ini menegaskan bahwa kohesi dan jaringan sosial tidak hanya berfungsi menjaga ketertiban, tetapi juga memperkuat masyarakat nelayan terhadap tantangan. Kohesi sosial dan jaringan sosial menjadi pilar penting keberlangsungan komunitas nelayan tradisional.</p> Nurul Qomariyah Oktaviani Yuliana Windi Sari Merlia lndah Prastiwi Alfan Biroli Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 372 382 DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN DAN STRATEGI ADAPTASI PETANI TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3541 <p>Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan di Desa Peteluan Indah, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, telah memicu perubahan sosial ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak alih fungsi lahan pertanian terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat serta strategi adaptasi petani di Desa Peteluan Indah, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Perubahan Sosial dari Piotr Sztompka dan Konsep Disfungsi Robert K. Merton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Informan dipilih secara purposive sampling, sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan di Desa Peteluan Indah berdampak signifikan terhadap kondisi sosial ekonomi. Alih fungsi lahan cenderung mempersulit kondisi ekonomi masyarakat sekitar di mana berkurangnya lahan menyebabkan menurunnya kesempatan kerja, hilangnya pendapatan tetap, serta mengurangi interaksi sosial yang sebelumnya terjalin melalui aktivitas pertanian. Petani melakukan berbagai strategi adaptasi seperti membuka usaha kecil, mengganti komoditas pertanian, hingga beralih ke sektor informal sesuai kemampuan masing-masing.</p> Queen Rinjani Lalu Wiresapta Karyadi Dwi Setiawan Chaniago Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 383 394 IMPLEMENTASI PERAN FORUM ANAK DESA DALAM MENGURANGI PEKERJA ANAK DI PERTANIAN TEMBAKAU DESA BOROK TOYANG https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3510 <p>Anak-anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa terhambat oleh praktik eksploitasi seperti pekerja anak. Di Desa Borok Toyang, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur, pekerja anak di sektor pertanian tembakau masih menjadi persoalan serius yang berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan masa depan anak-anak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana Forum Anak Desa Borok Toyang mengimplementasikan perannya dalam mengurangi pekerja anak di sektor pertanian tembakau, serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data primer melalui wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposive, serta data sekunder dari studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Forum Anak berperan sebagai pelopor dan pelapor dalam mewujudkan Desa Layak Anak. Peran pelopor diwujudkan melalui kegiatan edukasi, kampanye hak anak, dan penguatan solidaritas di antara anggota forum, yang mencerminkan bonding social capital. Sementara peran pelapor menyediakan ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan permasalahan dan mendorong kolaborasi lintas sektor, mencerminkan bridging social capital. Namun, Forum Anak menghadapi tantangan kompleks, seperti faktor ekonomi keluarga, budaya patriarki, pandangan sosial yang mewajibkan anak membantu orang tua, rendahnya kesadaran akan hak anak, dan norma sosial yang mendukung praktik pekerja anak. Dukungan pemerintah desa melalui regulasi, edukasi, dan kolaborasi lintas pihak menjadi faktor penting dalam mengatasi tantangan tersebut. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kapasitas Forum Anak dan sinergi multisektor untuk menciptakan lingkungan desa yang lebih aman, inklusif, dan layak bagi anak-anak</p> Nisa Fitriani Khalifatul Syuhada Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 395 407 MEDIA SOSIAL DAN OPINI POLITIK MAHASISWA https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3572 <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya peran media sosial, khususnya Instagram, dalam membentuk opini politik mahasiswa pada Pilkada NTB 2024. Instagram berfungsi bukan hanya sebagai media komunikasi, tetapi juga sebagai ruang produksi wacana politik yang dipenuhi dengan strategi <em>framing</em> dan praktik hegemoni. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana <em>framing</em> konten politik Pilkada NTB 2024 di Instagram membentuk opini politik mahasiswa serta bagaimana mahasiswa memaknai narasi politik di Instagram yang mengandung praktik hegemoni dalam membentuk opini terhadap calon kepala daerah di NTB?. Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan opini politik mahasiswa FHISIP khususnya tiga prodi yaitu prodi Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi dan Sosiologi dalam konteks Pilkada NTB 2024 berdasarkan konten di Instagram serta menafsirkan dinamika pemaknaan mahasiswa terhadap narasi politik di Instagram dalam kaitannya dengan pembentukan opini tentang calon kepala daerah NTB 2024. Secara teoritis, penelitian ini menggunakan teori <em>framing</em> Erving Goffman untuk menganalisis konstruksi pesan politik, dan teori hegemoni Antonio Gramsci untuk melihat narasi dominan diproduksi, diterima, maupun ditolak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis isi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi konten Instagram, kemudian dianalisis menggunakan model Miles &amp; Huberman serta diuji validitasnya melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram menjadi arena strategis dalam membentuk opini politik mahasiswa melalui visual, identitas, dan simbol lokal. Namun, mahasiswa tidak bersikap pasif; mereka melakukan verifikasi, menunjukkan skeptisisme, bahkan melakukan re<em>framing</em> terhadap konten politik yang dianggap manipulatif. Kesimpulannya, opini politik mahasiswa terbentuk melalui interaksi dialektis antara strategi <em>framing</em>, praktik hegemoni, dan refleksi kritis mahasiswa. Dengan demikian, Instagram berperan sebagai ruang pertarungan makna politik yang memperlihatkan dinamika penerimaan, negosiasi, dan resistensi terhadap narasi kampanye digital.</p> Siti Lauhil Bariah Nila Kusuma Khalifatul Syuhada Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 408 427 DINAMIKA TRADISI BAKALEWANG PADA PERNIKAHAN MASYARAKAT DESA MERARAN KECAMATAN SETELUK KABUPATEN SUMBAWA BARAT https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3546 <p>Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat dan lingkungan hidupnya mengalami perubahan sebagai akibat dari globalisasi. Dinamika masyarakat dan persepsi tentang nilai-nilai budaya telah berubah, yang mengakibatkan pergeseran dalam interaksi manusia satu sama lain. Salah satu tradisi dalam budaya tradisional yang mengalami perubahan yaitu tradisi bakalewang pada pernikahan masyarakat Desa Meraran. Bakalewang merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat secara bersama-sama ketika hajatan dilaksanakan. Tujuan dari penilian ini untuk mengetahui tahapan dan dinamika tradisi bakalewang pada masyarakat Desa Meraran. Penelitian ini menggunakan teori perubahan sosial Piotr Sztompka. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan dari tradisi bakalewang terdiri dari 5 tahap yaitu basamula, rembuk keluarga, barajak rabaya, pembentukan panitia, dan barajak. Dinamika yang terjadi dalam tradisi bakalewang mencakup tiga dimensi perubahan sosial yaitu perubahan kultural yang mencakup perubahan nilai dan makna yang terjadi pada cara dan proses tradisi bakalewang, perubahan struktural yang mencakup perubahan peran dan pandangan generasi muda terhadap tradisi bakalewang, dan perubahan interaksional yang mencakup pudarnya system gotong royong dan berkembangnya cara barajak rabaya yang mengakibatkan berkurangnya partisipasi dan interaksi pada masyarakat.</p> Siti Raihanun Ika Wijayanti I Dewa Made Satya Parama Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 428 439 ANALISIS KONFLIK KARANG TALIWANG DAN MONJOK TAHUN 2023 DALAM PERSPEKTIF TEORI LEWIS A COSER https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3528 <p>Konflik merupakan suatu dinamika sosial yang tidak dapat di hindari dalam kehidupan bermasyarakat terutama jika terjadi perbedaan. Lombok menjadi salah satu daerah penyumbang konflik di NTB, terutama di Kota Mataram. Dari berbagai konflik sosial yang pernah terjadi di Mataram, terdapat satu konflik yang cukup menonjol dan berlangsung lama, yaitu konflik antara masyarakat Karang Taliwang dan Monjok. Konflik ini mulai terjadi pada tahun 2015 dan baru benar-benar berakhir pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi konflik Lewis A Coser. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi non-partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya konflik berkelanjutan antara kedua wilayah serta menganalisis dampak yang muncul pascakonflik tahun 2023. Hasil penelitian berdasarkan teori Lewis A. Coser, konflik terbagi menjadi dua jenis, yaitu konflik realistis yang timbul karena ketidakpuasan terhadap aparat hukum dan kekecewaan masyarakat, serta konflik non-realistis yang bersifat emosional dan politis akibat ulah oknum, termasuk munculnya fenomena “Taliwang phobia” dan “Monjok phobia”. Faktor penyebab utama konflik meliputi dendam lama, kenakalan remaja, dan politik yang dimanfaatkan menjelang pemilu. Dampak pascakonflik terbagi dua, yaitu dampak negatif meliputi terganggunya ekonomi, trauma psikologis, lumpuhnya fasilitas umum, jatuhnya korban, retaknya hubungan sosial, serta terancamnya nilai dan norma sosial. Dampak positif meliputi meningkatnya solidaritas kelompok, terbentuknya paguyuban baru, terciptanya komunitas olahraga, serta meningkatnya kesadaran sosial. Resolusi pada 2023 melalui mediasi, musyawarah, perjanjian damai, dan kegiatan komunitas olahraga sebagai katup penyelamat, sehingga kedua belah pihak sepakat berdamai. Kesepakatan ini menjadi akhir perseteruan sejak 2015.</p> Saskia Zulhijayanti Mazka Arif Nasrullah Farida Hilmi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 440 452 PEREMPUAN KEPALA DESA BUNDER DAN JARINGAN SOSIALNYA DALAM TERCIPTANYA PARIWISATA BIODIVERSITAS EDUGARAM DI KABUPATEN PAMEKASAN https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3501 <p>Wisata yang berfokus pada biodiversitas menjadi salah satu strategi pembangunan berkelanjutan yang dapat mengaitkan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi. Akan tetapi, keberhasilan dalam pengembangannya sering kali dipengaruhi oleh jaringan sosial aktor lokal, termasuk peran perempuan dalam kepemimpinan di tingkat desa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran perempuan Kepala Desa Bunder dalam membangun jaringan sosial yang mendukung pengembangan pariwisata biodiversitas edugaram di Kabupaten Pamekasan. Metode penelitian menerapkan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif-analitis untuk memaparkan dinamika hubungan sosial yang terjalin. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa kepemimpinan perempuan Kepala Desa Bunder memiliki peran penting dalam menciptakan kerja sama antara pemerintah desa, BUMDes, komunitas, akademisi, dan pelaku usaha lokal. Jaringan sosial yang diciptakan bersifat inklusif, menekankan keterlibatan masyarakat serta menggabungkan kearifan lokal dengan inovasi pendidikan pariwisata garam. Temuan utama menunjukkan bahwa keberhasilan edugaram tidak hanya dipengaruhi oleh potensi alam, tetapi juga oleh keterampilan pemimpin perempuan dalam mengelola modal sosial seperti kepercayaan, norma, dan jaringan kolaborasi. Secara keseluruhan, penelitian ini menekankan bahwa perempuan pemimpin desa berperan penting dalam pengembangan pariwisata biodiversitas dengan memperkuat jaringan sosial antar aktor. Implikasi dari studi ini menyoroti pentingnya integrasi gender dalam kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan di tingkat desa.</p> Agus Salim Ekna Satriyati Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 462 470 REPRODUKSI SOSIAL DAN PRAKTIK PERNIKAHAN DINI: ANALISIS STRUKTUR KEMISKINAN, BUDAYA, DAN AKSES PENDIDIKAN MASYARAKAT PESISIR SAMPANG MADURA https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3552 <p>Fenomena pernikahan dini di wilayah pesisir Kabupaten Sampang merefleksikan bentuk reproduksi sosial yang kompleks antara struktur kemiskinan, nilai-nilai budaya, dan relasi kuasa dalam masyarakat Madura. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktik pernikahan dini dipertahankan melalui mekanisme reproduksi sosial yang berakar pada habitus kemiskinan dan sistem nilai kultural yang patriarkal. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnometodologi. Studi ini menitikberatkan pada asumsi “subjektivitas” serta tindakan interpretatif yang memproduksi serta mengorganisir pengalaman sehari-hari melalui pandangan stakeholder meliputi struktur organisasi lembaga pendidikan dan perangkat pemerintahan daerah mengenai praktik pernikahan dini dalam konteks akses pendidikan, kemiskinan dan nilai-nilai budaya Madura. Sementara teori reproduksi sosial Bourdieu digunakan untuk membaca keterhubungan antara habitus, modal sosial, dan struktur objektif yang melanggengkan praktik tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan dini berakar pada pengalaman tubuh yang terikat pada kemiskinan, kehormatan, dan religiusitas. Habitus kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan menciptakan reproduksi simbolik yang menormalisasi praktik pernikahan dini sebagai jalan keluar dari kerentanan sosial. Di sisi lain, nilai budaya Madura yang menekankan kepatuhan terhadap otoritas keluarga dan tradisi memperkuat legitimasi moral atas praktik pernikahan dini. Fenomena ini menunjukkan bahwa reproduksi sosial pernikahan dini tidak hanya beroperasi melalui struktur objektif, tetapi juga melalui pengalaman subjektif yang terinkarnasi dalam tubuh dan kesadaran sosial masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa intervensi sosial perlu memperhitungkan dimensi struktural dan kultural secara simultan untuk mendorong transformasi sosial yang berkelanjutan.</p> Johan Saputra Indra Jaya Kusuma Wardhana Arie Wahyu Pranata Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 471 479 KONSTRUKSI SOSIAL GELAR HAJI PADA MASYARAKAT KEKALIK JAYA, KECAMATAN SEKARBELA, KOTA MATARAM https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3526 <p>Ibadah haji tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai simbol status sosial di tengah masyarakat Indonesia, termasuk di Kelurahan Kekalik Jaya, Kota Mataram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses terbentuknya konstruksi sosial gelar haji serta dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan Teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Informan ditentukan dengan teknik purposive sampling, melibatkan masyarakat yang telah berhaji, tokoh agama, dan warga sekitar. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi sosial gelar haji di Kekalik Jaya terbentuk melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Gelar haji tidak hanya berfungsi sebagai identitas religius, tetapi juga sebagai simbol status sosial dan kehormatan sosial yang memengaruhi pola komunikasi, peran keagamaan, dan posisi sosial individu. Masyarakat memberikan penghormatan khusus kepada orang bergelar haji, seperti penggunaan bahasa halus dan keterlibatan lebih besar dalam kegiatan keagamaan maupun sosial. Di sisi lain, gelar haji juga membawa beban moral dan ekspektasi tinggi, di mana individu diharapkan menjadi teladan dalam perilaku dan tutur kata. Secara ekonomi, tradisi syukuran haji dan peluang pasca-haji memberikan dampak finansial baik positif maupun negatif bagi keluarga dan lingkungan.</p> Arum Wulansari Latifa Dinar Rahmani Hakim Arif Nasrullah Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 480 488 PENGEMBANGAN PARIWISATA INKLUSIF BERBASIS COMMUNITY BASED TOURISM DALAM PROGRAM CIPTA KERJA DAN EKONOMI KREATIF PADA KOMUNITAS PERSATUAN PENYANDANG DISABILITAS SUMENEP https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3492 <p>Dalam melakukan pembangunan yang berkesinambungan, perlu kiranya memperhatikan banyak aspek. Aspek keadilan untuk seluruh masyarakat menjadi salah satu ciri khas branding wisata religi yang mampu memberikan akses kepada masyarakat seluruhnya untuk merasa nyaman, aman dalam berwisata dan menciptakan pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat sekitar yang signifikan. Madura secara umum dikenal sebagai kawasan religius yang mengetengahkan nilai-nilai agamis. Dalam nilai-nilai agamis, Tuhan senantiasa tidak pernah membedakan kaumnya. Dalam perkembangannya, wisata religius Madura selayaknya tidak hanya memperhatikan aspek ekonomis, namun memperhatikan keterlibatan keadilan sosial dalam memberikan kesempatan untuk masyarakat disabilitas untuk ikut mengakses fasilitas religi dan pariwisata religi yang dimiliki. Bersama dinas pariwsata, peneliti mencoba untuk memberikan saran dan strategi untuk keberlagsungan pembangunan pariwisata religi yang mengedepankan aspek branding religi dan keadilan terhadap setiap umat. Dengan semakin diperhatikannya hak-hak masyarakat disabilitas dalam hal pariwisaa religi, maka semakin akan menambah citra dan branding yang ditawarkan untuk memikat masyarakat luas agar semakin mendatangi wisata-wisat yang ada di Madura secara umumnya dan wisata-wisata religi di Sumenep secara khususnya. Pembangunan yang lebih menitikberatkan pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, senyatanya tidak boleh meminggirkan kaum disabilitas sebagai bagian dari objek pembangunan itu sendiri. Oleh sebab itu, Pembangunan pariwisata yang ramah inklusi perlu menjadi sebuah masukan terhadap dinas terkait, dan pemerintah daerah untuk lebih menjunjung tinggi aspek keadilan sosial diantara sesama manusia.</p> Merlia Indah Prastiwi Yuliana Windi Sari Ekna Satriyati Setyaningsih Setyaningsih Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 489 501 PARTISIPASI LAKI-LAKI (SUAMI) DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI PADA MASYARAKAT PESISIR DUSUN KURANJI BANGSAL DESA KURANJI DALANG https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3517 <p>Indonesia sebagai negara dengan populasi yang besar (peringkat ke-4 dunia), menghadapi tantangan signifikan dalam aspek sosial ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran akibat laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Pemerintah telah melaksanakan Program Keluarga Berencana (KB) untuk pengendalian, namun pelaksanaannya masih menghadapi tantangan seperti rendahnya keterlibatan laki-laki dalam menggunakan alat kontrasepsi. Hal tersebut dipengaruhi oleh budaya patriarki pada masyarakat serta anggapan bahwa penggunaan alat kotrasepsi merupakan tanggung jawab perempuan. Realita ini ditemukan pada masyarakat pesisir yang mayoritas bekerja sebagai petani yaitu di Dusun Bangsal, Desa Kuranji Dalang, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengambilan keputusan dalam keluarga mengenai penggunaan alat kontrasepsi serta bentuk partisipasi laki-laki dalam keputusan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi serta menerapkan kerangka teori habitus Pierre Bourdieu untuk mengetahui pengalaman, pandangan, dan tindakan partisipan. Unit analisis dalam penelitian ini mencakup laki-laki (suami) dan masyarakat yang berpartisipasi di Dusun Bangsal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan laki-laki (suami) dalam penggunaan alat kontrasepsi memiliki beberapa faktor internal dan faktor eksternal, serta bentuk-bentuk partisipasi laki-laki dapat berupa fisik dan non-fisik. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kepada pihak terkait untuk merancang program KB yang lebih efektif dan melibatkan laki-laki secara lebih aktif dalam mewujudkan keluarga yang sejahtera.</p> Julianti Julianti Anisa Puspa Rani Muhammad Arwan Rosyadi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 502 515 EFEKTIVITAS PUSAT KEGIATAN MASYARAKAT (PKM) KARTI RINJANI DALAM MENEKAN ANGKA PEKERJA ANAK DI DUSUN BOROK, DESA BOROK TOYANG, SAKRA BARA, KABUPATEN LOMBOK TIMUR https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3511 <p>Pusat Kegiatan Masyarakat (PKM) Karti Rinjani di Dusun Borok, Desa Borok Toyang, Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, telah menunjukkan efektivitas dalam upaya menekan angka pekerja anak. Penelitian ini mengkaji efektivitas PKM Karti Rinjani dan faktor-faktor yang mendukung serta menghambat keberhasilan program tersebut. Metode penelitian kualitatif digunakan dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PKM Karti Rinjani efektif dalam menyediakan alternatif kegiatan edukatif dan rekreatif bagi anak-anak, mengalihkan mereka dari pekerjaan di sektor pertanian tembakau dan penggunaan gawai berlebihan. Efektivitas ini didukung oleh berbagai kegiatan seperti bimbingan belajar, kursus bahasa Inggris, pendidikan keagamaan, dan seni tari, yang disajikan dengan metode "belajar sambil bermain" sehingga menarik minat anak. Penurunan angka pekerja anak di Desa Borok Toyang, serta perubahan pola pikir orang tua yang kini lebih mendukung pendidikan anak-anak mereka, menjadi indikator keberhasilan program. Faktor-faktor pendukung meliputi dukungan dari Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI), komitmen pemerintah desa, sosialisasi dan edukasi aktif, keragaman dan daya tarik kegiatan, kerja sama dengan berbagai pihak (mahasiswa KKN, guru, remaja masjid, lembaga sosial), serta tingginya partisipasi anak-anak. Namun, program ini juga menghadapi hambatan, yaitu keterbatasan lokasi yang tetap untuk kegiatan belajar dan kurangnya jumlah tenaga pengajar atau tutor yang konsisten. Meskipun demikian, antusiasme anak-anak yang tinggi dalam mengikuti program menunjukkan potensi besar PKM Karti Rinjani untuk terus berperan dalam pemenuhan hak-hak anak di Dusun Borok.</p> Nisa Rosalina Khalifatul Syuhada Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 516 527 MODEL DAN MOTIF PENGOBATAN MASYARAKAT KOTA https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3586 <p>Perkembangan fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Mataram terus meningkat setiap tahun, termasuk pengetahuan medis yang kini menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat. Namun, banyak warga masih memilih pengobatan tradisional karena dianggap lebih terjangkau, menggunakan bahan alami, serta memiliki efek samping yang minim. Kepercayaan terhadap khasiat turun-temurun juga menjadi faktor penting dalam pilihan tersebut. Observasi awal menunjukkan bahwa meskipun memiliki akses terhadap layanan medis modern, masyarakat di sekitar Rumah Sakit Kota Mataram tetap mengandalkan pengobatan tradisional berdasarkan pengalaman dan keyakinan pribadi. Penelitian ini bertujuan mengkaji model pengobatan dan motif pilihan masyarakat melalui pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Unit analisisnya adalah warga sekitar Rumah Sakit Kota Mataram yang pernah menggunakan layanan medis modern namun juga aktif menggunakan pengobatan tradisional sebagai alternatif atau pendamping. Informan ditentukan menggunakan teknik purposive, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Kelurahan Pagesangan Timur, khususnya di wilayah Gebang Baru, tetap memilih model pengobatan tradisional meskipun fasilitas medis modern mudah diakses. Pilihan tersebut di latar belakangi oleh tiga jenis motif, yaitu motif masa lalu (pengalaman dan kebiasaan turun-temurun), motif masa kini (keyakinan terhadap efektivitas pengobatan tradisional), dan motif masa depan (harapan untuk kesembuhan yang lebih alami dan minim risiko).</p> Firdaus Putra Muhammad Arwan Rosyadi Khalifatul Syuhada Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 528 539 PEMAKNAAN SIMBOL-SIMBOL DALAM TRADISI MAULID ADAT DESA SAPIT KECAMATAN SUELA KABUPATEN LOMBOK TIMUR https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3665 <p>Maulid Adat Desa Sapit merupakan tradisi warisan leluhur yang telah dilaksanakan secara turun-temurun sejak berdirinya langgar atau masjid kuno di desa tersebut. Tradisi ini sarat dengan makna, karena setiap rangkaian upacara sebelum pelaksanaan Maulid Adat mengandung simbol dan nilai tersendiri yang diyakini masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori Interaksionisme Simbolis dari Herbert Blumer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam dan penelusuran dokumen. Penentuan informan dengan teknik <em>purposive</em> sampling. Teknik analisis data menggunakan data collection, data display,&nbsp; dan data condensation. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, teknik dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan maulid Adat di Desa Sapit terdiri atas tiga tahapan, yakni hari persiapan, hari rondon, dan hari puncak. Setiap tahapan memiliki simbol-simbol yang diwariskan secara turun-temurun, seperti Langgar Pusaka, ancak, prosesi bisok menik, pakaian adat, makanan, prosesi puncak, praja, dan makan bersama. Simbol-simbol tersebut mengandung makna mendalam yang merefleksikan identitas, kearifan lokal, serta ajaran Islam &nbsp;yang dijunjung oleh masyarakat Desa Sapit.</p> Asrul Umami Siti Nurjannah Saipul Hamdi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-13 2025-12-13 6 1 540 555 PENGEMBANGAN WIATA ALAM AIR TERJUN SARANG WALET https://proceeding.unram.ac.id/index.php/sensosio/article/view/3666 <p>Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan 3A pariwisata untuk mengetahui pengembangan wisata alam air terjun Sarang Walet. Konsep 3A (atraksi, amenitas dan aksesibilitas) merupakan syarat bagi pengembangan sebuah destinasi wisata. Setiap desatinasi wisata pasti mempunyai keunikan dan ciri khasnya masing masing yang menjadikan daya tarik wisata. Teori <em>Community Based Tourism </em>digunakan untuk memahami masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengembangan wisata alam Air Terjun Sarang Walet dilihat dari dimensi sosial, dimensi ekonomi, dimensi budaya, dimensi lingkungan, dan dimensi politik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, teknik pengumpulan data meliputi observasi langsung, wawancara mendalam dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori Milles, Huberman dan Saldana untuk teknik analisis data, dengan alur reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Untuk pengecekan data peneliti menggunakan teknik pengecekan keabsahan data (triangulasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wisata alam air terjun Sarang Walet merupakan destinasi wisata alam yang mulai menerapkan konsep 3A pariwisata. Wisata alam air terjun Sarang Walet merupakan wista alam yang berada diperbatasan antara Desa Kembang Kuning dan Desa Tetebatu. Air terjun Sarang Walet memiliki daya tarik alam dan budaya. Amenitas atau sarana prasarana yang ada di air terjun Sarang Walet sudah memadai namun masih kurang lengkap. Aksesibilitas menjadi suatu tingkat kemudahan bagi seseorang untuk mencapai suatu lokasi tertentu, namun akses jalan umum air terjun Sarang Walet masih kurang memadai. Sedangkan hambatannya yaitu kurangnya kemampuan masyarakat dalam berbahasa asing, kurangnya promosi, banjir diarea air terjun, kurangnya fasilitas pendukung, dan akses jalan umum kurang memadai.</p> Ertina Amini Amini Maya Atri Komalasari Farida Hilmi Copyright (c) 2025 Prosiding SeNSosio (Seminar Nasional Prodi Sosiologi) 2025-12-12 2025-12-12 6 1 556 575